Diberdayakan oleh Blogger.
Kamis, 22 Agustus 2013

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.

Filsafat  dunia  yang  kedua  adalah  empirisisme  yang  mengajarkan  bahwa  segala  sesuatu dapat diketahui atau disebut kebenaran jika dapat dialami atau melalui pengalaman. Dengan  kata  lain, manusia  harus mengalami  dahulu  sesuatu,  baru  sesuatu  itu  dikatakan kebenaran.  Pendiri  dari  filsafat  ini  adalah  John  Locke.  Para  tokoh  empirisisme  lainnya adalah David Hume, Ludwig A. Feuerbach, dll. Salah satu  tokoh empirisisme  ini, Ludwig

A.  Feuerbach  mengajarkan  bahwa  agama  itu  feeling  absolute  dependency  (perasaan
kebergantungan mutlak). Dari pengertian  ini, dapatlah disimpulkan bahwa hanya melalui
pengalaman,  kita  baru  dapat  mengerti  kebenaran  dan  agama  identik  dengan  sebuah
perasaan saja, bukan sebuah iman.


Timbulnya  empirisisme  pada  zaman  modern  filsafat  dikarenakan  adanya  rasa kebimbangan  terhadap  sains  dan  agama. tokoh-tokoh empirisisme, diantaranya John Locke, David Hume dan Herbert Spencer.

Istilah  empirisisme  diambil  dari  bahasa  Yunani  emperia  yang  berarti  coba-coba
atau  penglaman.  Jadi  empirisisme  adalah  suatu  doktrin  filsafat  yang  menekankan
pengalaman  dalam  memperoleh  pengetahuan.  Dalam  hal  ini  ada  dua  teori  untuk
mengetahui isi doktrin tersebut

1.      Teori makna
2.      Teori pengetahuan
tokoh  empirisme dianataranya:
1. THOMAS HOBBES
Thomas Hobbes adalah orang pertama yang mengikuti aliran empirisme. Menurut Hobbes  tidak  semua  yang  diamati  pada  benda-benda  itu  adalah  nyata,  yang  benar-benar nyata  adalah  gerak  dari  bagian-bagian  kecil  benda  itu.  Segala  yang  ada  ditentukan  oleh sebab  yang hukumnya  sesuai dengan  ilmu pasti dan  ilmu  alam. Dunia  suatu keseluruhan sebab-akibat,  situasi  kesadaran  kita  termasuk  didalamnya.  Filsafat  hobbesfilsafat  hobbes mewujdkan  suatu  sistem  yang  lengkap  mengenai  keterangan  tentang    yang  ada  secara mekanis.  Ia  juga adalah seorang materialis yang pertama dalam filsafat moderen dibidang ajaran tentang yang ada dan seorang naturalis di bidang antropologi, serta seorang absollutis di bidang ajaran tentang negara.

Materiailis  yang  dianut  hobbes  adalah  bahwa  segala  yang  ada  bersifat  bendawi yaitu segala sesuatu yang tidak bergantung pada gagasan kita. Dengan demikian pengertian subtansi di ubah menjadi suatu teori aktualitas. 

Ajaran Hobbes tentang negara adalah semua tabiatnya manusia adalah sama. Dalam
keadaan  yang  alamiah  setiaap manusia  ingin maempertahankan  kebebasannya  dan  ingin menguasai  orang  lain,  dan  itu  di  bahas  dalam  bukuyang membahas  tentang  lefiatan  dan liliatan dengan konsepnya manusia adalah homo homini lupus (monster-monster kecil yang saling  memakan  satu  sama  lain)tomas  juga  seorang  empris  yang  mengagumi  metode matematika sebagai hasil dari teori murni.

2. JOHN LOCKE
Sebelum  kami  menjeleskan  empirisisme  menurut  Jonh  Locke  pertama-tama  kami membicarakan tentang biografi beliau. Dia adalah seorang filosof yang berasal dari Inggris, ia  lahir di Wrington, Somersethire, pada  tahun 1632. Di  tahun 1647-1652  ia mengenyam studinya  di  Westiminster.  Dan  tahun  ini  juga  ia  melanjutkan  studinya  di  Universitas Oxford, mempelajari agama kresten. John  Locke  merasa  menerima  keraguan  sementara  yang  diajarkan  oleh  Descartes sehingga  ia  menolak  metode  deduktif  Drscartes  menggantikannya  dengan  generalisasi berdasarkan pengalaman. Ia hanya menerima pemikirn metematis yang pasti dan penarikan dengan cara metode induksi.

Salah satu bukunya John Locke yang berjudul, essay concerning human undestanding (1689),  tentang  semua  penagalaman  datang  dari  pengalaman  (Solomon:108).  Dia megatakan bahwa tidak ada ide yang diturunkan seperti yang dikatakan Plato. Dengan kata lain dia menolak innate idea atau ide bawaan.  Menurut beliau tidak ada innate (bawaan) di dunia ini, sebagaimana pendapatnya:
1.  Dari  jalan masuknya  pengetahuan  kita mengetahui  bahwa  bahwa  innate  itu  tidak ada.telah. paradikma umum  telah menagatakan bahwa  innate  itu ada.  Ia  itu seperti distempelkan pada jiwa manusia, dan jiwa membawanya ke dunia ini. Kenyataanya telah cukup menjelaskan pada kita bagaimana pengetahuan itu datang, yaki melalui daya-daya  yang  alamiahtanpa bantuan kasan-kasan bawaan, dan kita  sampai pada keyakinan tanpa suatu paengaertian asli.
2.  persetujuan  umum  adalah  argumen  yang  terkuat.  Tidak  ada  sesuatu  yang  dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea itu sebagai suatu daya yang inhern. Argumen ini ditarik dari persetujuan umum. Bagaimana kita nengatakan innate idea itu ada padahal umum tidak mengakui keberadaanya.
3.  Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
4.  Apa  innate  idea  itu  sebenarnya  tidaklah mungkin  diakui  dan  sekaligus  juga  tidak diakui  adanya.  Bukti-bukti  yang mengatakan  ada  innate  idea  justru  saya  jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
5.  Tidak  juga dicetakkan  (distempelkan) pad  jiwa  sebab pada  idiot,  idea yang  innate itu tidak ada. Padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berfikir. 

       John Locke, sebagai tokoh paling awal dalam urutan empirisme Inggris, merupakan sosok  yang  paling  konservatif  dan  kurang menusuk  dalam melesatkan  pertanyaan  keras empirisme.  Namun  dengan  jelas  dia  menyatakan  peran  empirisme  akan  tiba  dalam perkembangan filsafat di masa yang akan datang. Katanya, ada "Pembangun tertinggi yang rancangan terbesarnya dalam memajukan ilmu pengetahuan akan meninggalkan monumen abadi untuk penghargaan terhadap generasi selanjutnya". Namun dia menambahkan, Cukup merupakan  ambisi  bekerja  sebagai  buruh  rendahan  membersihkan  tanah  sedikit, menghilangkan  sampah-sampah yang mengotori  jalan pengetahuan." Dalam perkataannya yang berbau ramalan itu Locke melihat cakrawala filsafat masa depan. Itu akan benar-benar menjadi persoalan bahwa dua pertanyaan penganut empirisme akan menyebabkan keraguan besar pada bangunan  sistem  filsafat besar,  sehingga  akan  tiba waktunya  di mana  tak  ada lagi  pembangun  terkuat  dalam  filsafat.  Saat  ini  sudah  tidak  ada  pembangun  filsafat tertinggi.

Peta  filosuf  juga  seperti  yang  diramalkan  Locke:  sebagai  buruh  rendahan, membersihkan  tanah,  mengambil  sampah.  Sampah  apa  yang  diambil  para  filsuf?  Tentu saja, sampah rasionalistik seperti tulisan-mlism Plato, Saint Thomas, dan Descartes. Tetapi buat apa ada buruh rendahan yang membersihkan tanah, jika tidak ada yang dibangun, dan tidak  ada  Pembangun  tertinggi?  Penganut  empirisme  tidak  memiliki  iawaban  atas pertanyaan  ini  kecuali  merasa  senang  sekali  dapat  menemukan  sampah  dan menghilangkannya.

Kritik Keras  atas Teori  Ide  Innate. Sampah pertama yang dibersihkan  John Locke adalah  sampah yang diciptakan Descartes sendiri: Teori  Ide  Innate atau bawaan. Teori  ini menekankan bahwa  ide atau pikir yang  jelas dan  jernih serta  terbukti merupakan bawaan, yakni  bahwa  ide  ini  "lahir  bersama  kita".  Seperti  dikatakan Descartes,  ide  ini  :  tercetak pada  jiwa  kita.  Contoh  ide  bawaan  adalah  ide  benda,  sebab-akiba,  Tuhan,  dan  prinsip logika.

Pernyataan    kritik  keras  Locke  terlihat  jelas  dalam  pertanyan  "Bagaimana  Anda tahu?"  Data  pengalaman,  pengamatan  indra,  dan  bukti  empiris  apa  yang  bisa  Anda kemukakan  untuk mendukung  pertanyaan  ini? Bisakah Anda  tunjukkan  dengan merujuk pada  data  bahwa  semua manusia,  sejak  lahir, memiliki  ide  ini? Yang  jelas banyak orang yang  tidak  memiliki  ide  Ketuhanan  atau  logika  sejak  dilahirkan.  Apakah  Anda berpendapat,  seperti  yang  dilakukan  Descartes,  bahwa  dengan  ide  bawaan  atau  ide seseorang dapat melihat dengan benar pada  saat dia dididik untuk memahaminya? Tetapi kenyataan  bahwa manusia  bisa  belajar memahami  ide  seperti  itu bukan berarti  ide demikian  haruslah  bersama  manusia,  atau  merupakan  bawaan  dalam  diri  manusia,  namun hanyalah bahwa manusia itu rasional dan mampu berpikir. Oleh  karena  itu,  kata Locke,  teori  ide  innate  atau  bawaan merupakan  sampah  tak berharga. Akal pikiran bukanlah lemari yang diisi pada saat lahir dengan ide innate seperti itu.  Akal  pikiran  merupakan  lemari  kosong.  Dengan  mengubah  metaforanya,  Locke berpendapat  bahwa  akal  pikiran  merupakan  lembaran  kosong,  kertas  putih  kosong pengalaman  akan  menulis  di  dalamnya,  dan  yang  ditulis  pengalaman  inilah  yang  bisa diketahui akal pikiran.

Teori  Pengetahuan  Locke.  Dari  sudut  pandang  Locke,  semua  ide  pemikiran  kita hanya  memiliki  satu  .sumber  dan  itu  adalah  pengalaman.  Lalu  apa  teori  pengetahuan Locke? Sasarannya adalah untuk menunjukkan bahwa asal-mula pengetahuan kita ada pada pengalaman  indra  kita, melalui  gambaran  penerimaan  akal  yang  dibuat  oleh  obyek  dari luar. Satu-satunya sumber lain pengetahuan adalah refleksi kita terhadap pengalaman indra, seperti  berpikir,  ragu,  dan  yakin.  Locke  mengambil-alih  pandangan  Descartes  atas  ide sebagai segala sesuatu yang disadari, dipikirkan oleh akalku, segala obyek pemikiran.

Locke  juga mengambilalih  subyektivisme Descartes,  pandangan  bahwa  apa  yang paling  aku  ketahui  adalah  akalku  sendiri  dan  ide  yang  ada  di  dalamnya.  Jadi  di  sini  kita memasuki  empkisme,  persoalan  yang melekat  pada  subyektivisme  yang  kita  dapati  pada Descartes:  jurang  pemisah  atau  jarak  antara  akal  pikiranku  bersama  ide  di  dalamnya dengan obyek jasmaniah dan manusia di mana ide pikiranku merujuk di luar diriku, berada di  alam  sosial  dan  fisik.  Bagaimana  aku  mengeta-huinya  jika  aku  telah  terpaku  untuk mengetahui  kepastian  hanya  dengan  ide  pikiranku?  Bagaimana  aku  bisa  memiliki pengetahuan  sejati menge-nai  obyek,  sementara  obyek  itu  sendiri  terbebas  dari  akalku  di dunia ini?

Descartes  telah  merumuskan  jawaban  atas  persoalan  ini  dengan  teorinya  bahwa
kejelasan  dan  kejernihan  ide  rasionalku  itu  benar,  karena  Tuhan  menjaminnya.  (Tuhan dijamin  keberadaan-Nya  oleh  kejelasan  dan  kejernihan  pikirku.  Ini  adalah  lingkaran Cartesian). Oleh karena  itu, Descartes berpendapat, aku bisa  tahu bahwa benda  jasmaniah itu  ada dan bahwa benda-benda  itu  tersebut memiliki  sifat-sifat esensialnya,  sama  seperti sifat-sifat  yang  aku  punya  dalam  kejelasan  dan  kejernihan  pikirku  atas  benda-benda tersebut,  sifat  yang  berkembang  ruangnya  dan  mampu  bergerak.  Di  lain  pihak,  ide pemikiranku  tentang  sifat yang bisa dirasa,  semisal warna, bunyi,  tekstur, dan  rasa bukan berada  pada  obyek  fisiknya  tetapi  ada  padaku,  hasil  dari  interaksi  antaM  bbyek  fisik tersebut  dengan  organ  pengindraanku.  Sifat-sifat  atati  'feualitas  esensialnya  secara matematis bisa dihitung,  seperti panjang, ketinggian, dan  jarak,  serta berguna untuk  ilmu mekanik matematis.

Locke  mengambilalih  ide  Descartes  mengenai  zat  fisik,  yang  menyusun pembedaan antara sifat atau kualitas primer dan sekunder serta menciptakan permasalahan yang  benar-benar  meresahkan.  Sebagai  seorang  penganut  empirisme,  Locke  hanya  bisa tahu mengenai apa yang  tercipta menurut persepsi panca  indra. Dia  tidak bisa menyatakan mengetahui  segala  sesuatu  dengan  kejelasan  dan  kejernihan  ide  pemikiran  rasional  atau dengan bantuan Tuhan. Lalu, bagaimana dia  tahu bahwa zat fisik  itu ada? Apa dia pernah mempunyai pengala-man mengenai zat fisik? Bagaimana dia tahu bahwa ide pemikiran kita mengenai  sifat  primer,  seperti  yang  dinyatakannya,  termasuk  dalam  obyek  fisik?

Bagaimana  dia  tahu bahwa  sifat  sekunder  "bukanlah  apa-apa di dalam obyek  itu  sendiri" melainkan "sensasi dalam diri kita yang diciptakan sifat primernya?". Jadi bola penghancur empkisme mengarah  pada  John Locke  sendiri  dan  teorinya  bahwa  zat  fisik  itu  ada  serta memiliki sifat primer yang menciptakan kualitas sekunder dalam diri kita.

3. HARBERT SPENCER
  Filsafat harbert spencer bepusat pada teori evolusi. Menurut Harbert Spencer segala sesuatu  yang  ada  di  dunia  ini  dapat  di  ibaratkan  sebuah mesin  dengan  sistem-sistemnya yang  dinamis.  Berkembang  dari  ha  seederhana  berkembang  menjadi  hal  yang  komplek inspirasi dari kuman yang bersel satu yang merupakan awal kehidupan di bumi. Kemudian sel  tersebut  berubah  menjadi  mahluk  yang  bersel  lebih  dari  satu  dan  ahirnya  menjadi mahkluk  –mahkluk  lain  yang  rumit  dan  komplek.  Dia  juga membayangka manusia  dan kehidupan sosialnya berefolusi dari hal yang sederhana menju hal yang komplek.   Kuman yang  berevolusi menjadi mahluk  yang  komplek merupakan  kuman  yang  kukat  dan  telah mengalahkan  kkuman-kuman  yang  lain.  Hal  inipun  terjadi  dalam  kehidupan  manusia. Secara  alami manusia  akan  bertarung  satu  sama  lain  dan  yang  kuat  akan menang.  Pada zaman  yang  sama  di  benua  yang  lain  seorang  filosof  bernama  darwin  melakuakan penelitian-penelitian  tentang  mahluk  hidup  dan  mempunyyyai  kesimpulan  yang  sama tentang efolusi. Hal inilah yang menyebabkan efolusi di terima di setiap penjuru dinia.

 4. DAVID HUMME
Dalam  teori  pengenalan  Humme  mengajarkan  bahwa  manusia  tidak  membawa pengetahuan  bawaan  ke  dalam  hidupnya.  Sumber  pengetahuan  adalah  pengamatan. Pengamatan  mmberikan  dua  hal  yaitu  kesan-kesan  (impression)  dan  pengertian  – pengertian atau ide – ide (ideas).

Humme  juga  tida  mengakui  adanya  kausalitas  atau  hukum  sebab  –  akibat.  Pad umumnya  orang  berpendapat  bahwa  penyimpulan  soal  –  soal  yang  nyata  tampaknya didasarkan  atas  hubungan  sebab  –  akibat.  Hubungan  kausal  itu  sebenarnya  suatu kepercayaan belaka. Di dalam etikanya humme membuang segala bentuk kausalitas, sebab akal  hanya  dapat  menunjuk  kepadanya  aanya  kesesuaian  antara  suatu  perbuatantertentu dengan de fakto.

Pada  hakikatnya  pemikiran  Humme  ini  bersifat  analitis,  kritis,  dan  skeptis.  Ia berpangkal  kepada  keyakinan  bahwa  hanya  kesan  –  kesanlah  yang  pasti,  jelas  dan  tidak dapat  diragukan,  dari  situlah  ia  sampai  pada  keyakinan  bahwa  “aku”  termasuk  dunia hayalan. Berarti  ,dunia  terdiri  dari  kesan  –  kesan  yang  terpisah-pisah  yang  dapat disusun secara  objektif,  sistematis,  karena  tiada  hubungan  sebab  –  akibat  diantara  kesan  –  kesan itu.


DAFTAR PUSTAKA

Soemargono, Soejono, Dr., Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2004
Hadiwijoyo, Hani, Dr., Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Komisius, cetakan 21, Yogyakarta,
2005


0 komentar: